Pages

Thursday, October 10, 2013

Arti Lambang Saka Wanabakti

Arti Lambang Saka Wanabakti PDF Print
 Image
Bentuk 
Lambang Saka Wanabakti berbentuk segilima sama sisi dengan panjang sisi 5 cm.
Isi lambaing Saka Wanabakti terdiri dari:
a.   Gambar Lambang Departemen Kehutanan
b.   Gambar Lambang Gerakan Pramuka
c.   Tulisan dengan huruf besar berbunyi SAKA WANABAKTI
  
Warna Lambang Saka Wanabakti terdiri dari:
a.   Warna dasar coklat
b.   Warna gambar lambang Departemen Kehutanan hijau, biru, hitam
c.   Warna gambar lambang lambing Gerakan Pramuka kuning
d.   Warna tulisan hitam

Arti kiasan lambang Saka Wanabakti
a.   Pohon hijau melambangkan hutan yang subur yang mempunyai berbagai fungsi dalam upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
b.   Pohon hitam melambangkan hutan yang produktif yang berfungsi sebagai sarana pendukung pembangunan nasional.
c.   Garis-garis lengkung biru melambangkan fungsi hutan sebagai pengatur tata air.
d.   Warna dasar coklat melambangkan tanah yang subur berkat adanya usaha konservasi tanah.
e.  Tunas kelapa kuning melambangkan kegemilangan generasi muda yang tergabung dalam Saka Wanabakti yang giat mendukung pembangunan hutan dan kehutanan serta pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
f.    Segilima melambangkan falsafah bangsa yaitu Pancasila yang merupakan azas tunggal bagi Saka Wanabakti.
g.   Keseluruhan lambing Saka Wanabakti ini mencerminkan anggota Satuan Karya Pramuka Wanabakti yang aktif membantu usaha pembangunan hutan dan kehutanan serta pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup guna mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945

MENUJU INDONESIA LESTARI

Materi Pramuka

MENUJU INDONESIA LESTARI,
PRAMUKA BERKARYA DENGAN MEMBIBIT MAHONI (Swietenia mahagoni)
PENDAHULUAN


Keberadaan hutan menjadi prioritas utama pemerintah Buleleng yang dalam hal ini menjadi tupoksi kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) secara khusus, dan seluruh masyarakat Buleleng pada umumnya. Untuk  menyukseskan program rehabilitasi dan konservasi lahan, pemerintah telah melakukan berbagai kegiatan penanaman di daerah kawasan hutan maupun luar kawasan seperti Gerakan Penghijauan dan Konservasi Alam (GPKA).
Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu didukung dengan persediaan benih berkualitas dalam jumlah yang cukup  dan berkesinambungan. penggunaan bibit yang bermutu untuk program penanaman masih sangat terbatas, ini menunjukkan keberadaan sumber bibit yang bermutu menjadi sangat penting. Jumlah sumber bibit pada saat ini masih sangat terbatas, umumnya masih mempunyai kualitas  genetik rendah dengan potensi produksi yang rendah pula. Pembuatan benih oleh masyarakat masih sangat kecil yang disebabkan oleh kurangnya sistem pengelolaan yang cukup. Pembuatan bibit tanaman dengan pola kemitraan antara pihak Dishutbun dengan masyarakat pada umunya dan generasi muda pada khususnya sangat diperlukan dalam perencanaan program pembibitan  tanaman. Hal ini perlu dilakukan karena disadari bahwa generasi muda mempunyai peranan penting dan strategis dalam upaya rehabilitasi, konservasi lahan dan pelestarian sumber daya alam (Warta Kwarnas: 2007).
Mengingat gerakan pramuka sebagai wadah pembinaan generasi muda dengan menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan, dianggap merupakan kelompok masyarakat yang perlu dijadikan mitra untuk mendukung kegiatan pembangunan kehutanan, pelestarian sumber daya alam, dan lingkungan hidup yang diwujudkan dengan pembentukan Satuan Karya Pramuka Wanabakti  (Saka Wanabakti) sebagai bentuk kerjasama antara Kwartir Nasional dan Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Kwarnas: 1984).
Berkenaan dengan hal tersebut, Satuan Karya Pramuka Wanabakti Kabupaten Buleleng dalam binaan Kwartir Cabang Buleleng dan Dinas kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Buleleng telah menunjukkan kerja nyata dalam mewujudkan hutan lestari melalui kegiatan pembuatan bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) yang dilaksanakan oleh anggota Saka Wanabakti pada gugusdepan/sekolah masing-masing.

PEMBAHASAN
Gambaran Umum Saka Wanabakti
Lahirnya Saka Wanabakti diawali dengan penandatangan piagam kerjasama Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Departemen Kehutanan pada tanggal 27 Oktober 1983 oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Let. Jen TNI (Purn) Mashudi dan Menteri Kehutanan Kabinet Pembangunan III Republik Indonesia Dr. Soedjarwo. Pembentukan Saka Wanabakti ditetapkan dengan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No.134 Tahun 1983, tanggal 10 Desember 1983. Pada tanggal 19 Desember 1983, Pimpinan Saka Wanabakti ditetapkan dan dilantik oleh Wakil Presiden RI, Umar Wirahadikusamah, pada kesempatan Upacara Puncak Penghijauan Nasional di Desa Pidpid, Karangasem Bali, yang sampai saat ini tanggal tersebut sebagai lahirnya Saka Wanabakti (Saka Wanabakti Nasional: 2005).
Tujuan dibentuknya Saka Wanabakti adalah untuk memberi wadah pendidikan di bidang kehutanan kepada anggota Gerakan Pramuka, terutama Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega agar mereka dapat membantu membina dan mengembangkan kegiatan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup, melaksanakan secara nyata, produktif dan berguna bagi Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega sebagai baktinya terhadap pembangunan masyarakat, bangsa dan negara (Kwarnas: 1984). Anggota Saka Wanabakti adalah:
  • pramuka Penegak dan Pramuka Pandega
  • pembina Pramuka sebagai Pamong Saka dan instruktur tetap
  • pemuda calon anggota Gerakan Pramuka yang berusia 16-25 tahun.
Saka Wanabakti meliputi 4 (empat) krida sebagai satuan terkecil dan menjadi wadah kegiatan keterampilan tertentu (Kep. Kwarnas: 1984), yaitu : (1) Krida Tata Wana; (2) Krida Reksa Wana; (3) Krida Bina Wana; (4) Krida Guna Wana. Dalam pelaksanaan operasionalnya, ditentukan upaya pokok dan langkah-langkah pencapaian kecakapan masing-masing krida yang dijabarkan kedalam Syarat Kecakapan Khusus (Duryat, 2005).
Identitas Mahoni
Nama binomial Mahoni adalah  Swietenia mahagoni. Klasifikasi ilmiah tentang Mahoni ialah :
Kingdom         : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom    : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi    : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi               : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas               : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas        : Rosidae
Ordo                : Sapindales
Famili              : Meliaceae
Genus              : Swietenia
Spesies            : Swietenia mahagoni (L.) Jacq
Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-ternpat lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon pelindung, reboisasi dan penghijauan (Anonim, 2010) yang asalnya dari Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat dengan pantai. Jenis yang tumbuh pada zona lembab; menyebar luas secara alami atau dibudidayakan; jenis asli Meksiko (Yucatan), bagian tengah dan utara Amerika selatan (Wilayah Amazona)
Pohon selalu hijau dengan tinggi antara 30-35 cm. Kulit berwarna abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi coklat tua, menggelembung dan mengelupas setelah tua. Daun bertandan dan menyirip yang panjangnya berkisar 35-50 cm, tersusun bergantian, halus berpasangan, 4-6 pasang tiap-daun, panjangnya berkisar 9 – 18 cm. Bunga kecil berwarna putih, panjang 10-20 cm, mulai bercabang. Buah kering merekah, umumnya berbentuk kapsul bercuping 5, keras, panjang 12-15 cm, abu-abu coklat, dan halus. Bagian luar buah mengeras, ketebalan 5-7 mm bagian dalam lebih tipis. Dibagian tengah mengeras seperti kayu, berbentuk kolom dengan 5 sudut yang memanjang menuju ujung. Buah akan pecah mulai dari ujung atau pangkal pada saat masak dan kering. Biji menempel pada kolumela melalui sayapnya, meninggalkan bekas yang nyata setelah benih terlepas. Umumnya setiap buah terdapat 35 -45 biji. Kayu Mahoni ini termasuk bahan mebel bernilai tinggi karena dekoratif dan mudah dikerjakan. Dalam sistem agroforestry digunakan sebagai tanaman naungan dan kayu bakar.
Pembuatan Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni)
Kegiatan ini dilaksanakan selama rentang waktu 6 bulan antara Agustus 2009 hingga Februari 2010 dengan dana berasal dari kas Wanabakti dan donator yang sifatnya tidak mengikat. Pembuatan Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) oleh anggota Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng meliputi beberapa tahap kegiatan yaitu: (1) tahap persiapan dengan tujuan mempersiapkan serta memberi pengetahuan awal kepada anggota tentang teknik pembuatan bibit dengan kualitas unggul. Tahap persiapan ini meliputi penyusunan rencana dan jadwal pembibitan, penentuan lokasi dan penyediaan sarana dan prasarana; (2) tahap pelaksanaan yaitu melaksanakan kegiatan pembuatan bibit Mahoni (Swietenia mahagoni)  di gugusdepan masing-masing sesuai teori yang diberikan meliputi pengadaan biji, penaburan biji, penyapihan, pemeliharaan dan pengangkutan; (3) Tahap evaluasi yaitu pengecekan/pemantauan hasil kegiatan pembibitan ke masing-masing gugusdepan oleh instruktur saka guna mengetahui hasil dan kendala yang dihadapi (Panitia Pelaksana: 2010). Adapun langkah-langkah dalam membuat bibit sebagai berikut.
Pengadaan biji
Untuk memperoleh produktivitas kayu dan mutu tegakan yang tinggi perlu diupayakan pemakaian bibit yang baik. Bibit yang baik diperoleh dari tegakan benih yang telah berumur lebih dari 20 tahun. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengadaan biji :
  1. Diambil dari pohon yang pertumbuhannya baik dan jelas asal usulnya
  2. Bermutu baik, sehat dan tidak terserang hama penyakit
Penaburan biji
  1. Sebelum dilakukan penaburan, sayap biji digunting. Media tabur yang digunakan adalah tanah dicampur pasir dengan perbandingan 2 : 1, kemudian disaring dengan kawat saringan berukuran 2 mm. Sebelum dipakai sebaiknya media tersebut disterilkan terlebih dahulu. Untuk mencegah serangan hama-penyakit, bedeng tabur dibuat setinggi ± 1 meter dari permukaan tanah. Penaburan benih dilakukan secara merata ke seluruh permukaan media dengan jarak 2 x 1 cm pada bedengan tabur ukuran 5 x 1 m atau 2 x 1 m. Biji ditanam tanpa sayap dengan bagian biji yang tebal sebelah bawah. Bedeng tabur diberi naungan.
  2. Cara lain penaburan biji dapat dilakukan ke kontainer atau kantong plastik yang sudah diberi lubang-lubang kecil. Pada cara ini tidak diperlukan penyapihan bibit, tetapi diperlukan penyulaman pada kantong plastik yang bijinya tidak tumbuh. Perlakuan selayaknya sama seperti bibit yang disapih. Untuk menjaga kelembaban pada bedeng tabur, harus dilakukan penyiraman secara hati-hati.
Penyapihan
Benih mulai berkecambah ± pada hari ke 5 setelah penaburan. Pada umur 2-3 minggu atau kecambah sudah mempunyai 2-4 helai daun dapat dipindahkan ke dalam kantong plastik dengan ukuran 8 x 15 cm yang telah diisi media dengan alat penjepit (Dephut: 2007). Media yang digunakan beragam, yang penting media tersebut berareasi baik dan cukup mengandung hara mineral, antara lain dapat berupa campuran tanah humus dan pasir atau tanah mineral, kompos dan pasir. Komposisi yang umum dipakai adalah campuran pasir, tanah dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit antara lain :
  1. Pencabutan semai dari bedeng tabur harus hati-hati dan akar tidak boleh patah
  2. Semai ditanam dalam kantong plastik atau kontainer lain berdiri tegak dan akar semai jangan melipat.
  3. Semai terhindar dari luka
  4. Penyapihan dilakukan pada pagi hari atau sore hari dan dilakukan dibawah naungan (sarlon)
Bibit persemaian siap ditanam di lapangan setelah berumur ± 5 bulan. Ukuran tinggi bibit ± 25 cm (dari pangkal batang sampai ujung daun), bagian batang bibit berkayu, diameter bibit > 2 mm, sehat dan segar.
Pemeliharaan dan Pengangkutan
Untuk memperoleh bibit yang berkualitas baik dalam jumlah yang memadai, perlu dilakukan pemeliharaan setelah kegiatan penyapihan. Kegiatan ini berupa penyiraman, penyiangan dan pemupukan. Penyiraman dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Penyiraman dilakukan secara hati-hati, menggunakan sprayer gendong dengan butiran air halus (kabut). Penyiangan terhadap gulma yang tumbuh pada kantong plastik dilakukan setiap hari. Pemupukan pertama dengan NPK dilakukan sewaktu mencampur media tumbuh dengan dosis 1 gram (1 sendok teh) setiap kantong. Pemupukan kedua dan selanjutnya dilakukan setiap bulan dengan dosis yang sama.
Sebelum bibit diangkut ke lapangan terlebih dahulu dilakukan seleksi bibit untuk memilih bibit yang baik. Bibit yang akan ditanam sebaiknya dibiarkan selama 2-3 hari di tempat penampungan, dengan maksud memberi waktu bagi bibit untuk menyesuaikan diri dengan keadaan tempat tumbuh yang baru. Terhadap bibit ini perlu dilakukan perawatan seperti di persemaian, sehingga kondisi bibit tetap sehat dan segar. Dalam pengangkutan bibit agar diupayakan dalam pengangkutan bibit ke lapangan seaman mungkin dengan menyimpan bibit pada rak angkut (Dephut: 2006).
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, yaitu setelah curah hujan cukup merata. Pada saat bibit ditanam, kantong plastik dilepas secara hati-hati supaya media tumbuh tetap utuh. Kemudian bibit dimasukkan kedalam lubang yang telah disiapkan, ditutup kembali dengan tanah serta dipadatkan. Jarak tanam diatur seperti yang dianjurkan dalam rencana.

 
Gambar 1. Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni)
Sumber: Panitia Pelaksana
Hasil dilapangan menunjukkan bahwa kegiatan pembuatan bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) guna menghasilkan bibit dengan kualitas unggul dapat terlaksana dengan cukup baik. Sebanyak 70% atau 350 bibit Mahoni dapat dihasilkan dari 500 biji yang disemai. Benih yang tidak dapat tumbuh disebabkan oleh adanya genangan air akibat hujan serta penyiraman yang berlebihan. Bibit tersebut oleh anggota Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng disumbangkan kepada sekolah melalui penghijauan lingkungan, diberikan kepada guru dan ditanam pada areal kebun anggota sehingga dapat bermanfaat secara langsung terhadap pelestarian lingkungan (Panitia Pelaksana, 2010).
SIMPULAN
Berdasarkan pembahahasan diatas, simpulan yang dapat disampaikan bahwa pramuka satuan karya pramuka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng memiliki peran startegis dalam upaya terhadap kepedulian hutan menuju Indonesia lestari yang diwujudkan melalui kegiatan pembuatan bibit Mahoni (Swietenia mahagoni).
DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Pembuatan Bibit. Tersedia pada http://www.bpprejotangantulungagung.co.id Diakses pada tanggal 20 Februari 2010.
Departemen Kehutanan, 2006. Penanganan Bibit. Pusat Standarisasi dan Lingkungan. Jakarta.
Departemen Kehutanan, 2007. Petunjuk Teknis Pembuatan Bibit Desa Pekraman (makalah tidak diterbitkan). Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Unda Anyar. Denpasar.
Dinas Kehutanan dan Perkebunan. 2009. Data Statistik Kehutanan dan Perkebunan. Buleleng.
Duryat, 2005. Kehutanan Umum dan Saka Wanabakti. Saka Wanabakti Tingkat Nasional. Jakarta.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 1984. Keputusan Ketua Kwartir Nasional No. 05 tahun 1984 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan karya Pramuka Wanabakti. Jakarta.
Panitia Pelaksana, 2010. Laporan Pertanggungjawaban Pembuatan Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) Tahun 2009. Buleleng: Dewan Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng.
Saka Wanabakti Nasional. 2005. Materi Pelengkap Krida Binawana. Jakarta: Sekretariat Pimpinan Saka Wanabakti Nasional.
Warta Kwarnas. 2007. Kader Pramuka Sangat Diperlukan Dalam Merehabilitasi dan Melestarikan Sumber Daya Alam. Jakarta.

Memahami Pendidikan Dan Latihan dasar lebih dalam

Kegiatan Susur Sungai Saka Wana bakti Wonosobo



Memahami Pendidikan Dan Latihan dasar lebih dalam

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger... Memahami Pendidikan Dan Latihan dasar lebih dalam
Dalam budaya wanabakit ada yang disebut PLD atau panjangnya Pendidikan dan Latihan Dasar, acara ini biasanya diisi dengan berbagai materi tentang kewanabaktian
dan lebih banyak mengkondisikan hidup di hutan.
PLD pada intinya memperkenalkan kebiasaan dan apa yang haarus dilaksanakan oleh seorang anggota saka baik itu secara teori maupun praktek.

memang ada sedikit kebiasaan yang agak tidak biasa yang sehari hari kita lakukan seperti BINJAS, tidur di alam bebas dan terkatang bentakan yang tidak sewajarnya terasa.
akan tetapi hal seperti itu ternyata terbawa ke dalam kesadaran kita bahwa hidup diluar kebiasaan merupakan sebuah masalah yang harus cepat beradaptasi.
tidak terbayangkan tidur diatas terpal dialam terbuka digunung lagi, apalagi kalau ditambah hujan seolah olah hanya menyengsarakan diri, akan tetapi kita lebih bijaksana
dan lebih memahami bahwa hidup dihutan ternyata lebih berbahaya apabila tidak di siasati.
rasa lelah seharian dan paket binjas yang terasa over membuat kita tidak sadar tidur dimana, akan tetapi nikmat istirahat itu terasa hingga air hujan mengguyur badan pun
sewaktu tidur tidak terasa, dan hangatnya tanah yang bersentuhan dengan tubuh seolah menjadi selimut malam digunung.
memang tidak mudah menaklukan emosional, dan rasa yang tidak habis fikir apa apaan ini?
akan tetapi setelah itu berlalu hal seperti itu akan membekas seumur hidup dan akan menjadi kenangan yang terindah,
sungguh tidak menyakangka aku bisa push UP 100 kali,
sungguh tidak sadar aku kuat berjalan selama 9 jam terus menerus padahal sudah 4 hari tidur dihutan.
sungguh aku tidak sadar bahwa tenaga ku sebenarnya sangat kuat.
bahwa akupun punya dan bisa mendayagunakan semua tenaga yang ada untuk bisa bertahan dalam kondisi yang tertekan.
sungguh PLD merupakan pengalaman yang luar biasa.....

Krida Tata Wana

Krida Tata Wana - Perisalahan Hutan
Tata wana merupakan salah satu Krida Saka Wana Bakti

* Tata berarti menata / mengatur.
* Wana berarti hutan.

Tata Wana adalah kegiatan menata / mengatur kawasan hutan dan merisalah isinya.

Krida Tata Wana terdiri dari 3 SKK / TKK

1. SKK / TKK Perisalah Hutan.
2. SKK / TKK Pengukuran dan Pemetaan.
3. SKK / TKK Penginderaan Jauh.

SKK / TKH pokok dalam Krida Tata Wana adalah SKK / TKK perisalahan hutan sebab:

Penginderaan, Pengertian dan Pemahaman SKK / TKK perisalahan Hutan dianggap lebih mudah daripada SKK / TKK yang lain. Dalam SKK / TKK Perisalah Hutan mencakup beberapa dasar dasar dan pengenalan yang mengarah pada pemahaman / pengertian SKK / TKK yang lain.
SKK / TKK perisalah Hutan diharapkan dapat menjangkau sampai ke tingkat Kwarcab Alat Perisalah Hutan dapat di modifikasi dari keterbatasan kondisi peralatan yang ada.

Perisalah Hutan

Perisalah hutan / inventarisasi hutan adalah kegiatan pengumpulan data hutan dan kehutanan , baik secara kualitas maupun kuantitas, diantaranya mengenai luas areal, potensi tegakan, keadaan fisik lapangan dan keadaan sosial ekonomi sekitar hutan

Maksud dan tujuan :

Untuk mengetahui masa atau jumlah tegakan, komposisi tegakan dan keadaan lapangan.

KRIDA REKSAWANA

KRIDA REKSAWANA
Reksawana berasal dari bahasa Sansekerta yang terdiri dari 2 suku kata yaitu Reksa (menjaga/melindungi) dan Wana (hutan)
Krida Reksawana adalah salah satu krida di Saka Wanabakti yang segala bentuk kegiatannya dalam rangka menjaga dan melindungi hutan.
SKK dan TKK :
1. Keragaman hayati
Diantaranya yang terdapat didaratan,lautan,dan ekosistem akuatik sama komplek. Ekologi yang merupakan bagian dari keaneka ragaman di dalam spesies.
2. Konservasi kawasan
Yaitu suatu upaya perlindungan sistem penyangga, perlindungan, pengawetan, keanekaragaman, jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistem dan pemanfaatan.
Secara lestari sumber daya alam hayati yang dilakukan terhadap kawasan yang memiliki sumber alam hayati dan ekosistemnya.
3. Konservasi jenis satwa
Adalah upaya-upaya yang dilakukan baik dalam perlindungan, pengawetan, pemanfaatan satwa sehingga terhindar dari bahaya kepunahan.
Keputusan Presiden telah No. 4/93 telah menetapkan tumbuhan dan satwa nasional :
1. Komodo sebagai satwa nasional
2. Ikan siluk merah sebagai satwa pesona
3. Elang jawa sebagai satwa langka
4. Melati sebagai puspa bangsa
5. Anggrek bulan sebagai puspa pesona
6. Padma raksasa sebagai puspa langka
4. Konservasi jenis tumbuhan
Adalah upaya untuk mencegah agar tumbuhan terhindar dari kepunahan melalui perlindungan sistem ekologi, kelestarian jenis tumbuhan, pemanfaatan secara lestari.
5. Perlindungan hutan
Kegiatan yang meliputi usaha-usaha prlindungan hutan :
Mencegah dan membatasi kerusakan-kerusakan hutan dan hasil alam yang disebabkan oleh perbuatan manusia dan ternak, kebakaran, gaya-gaya alam, hama, dan penyakit.
6. Pendakian
Persiapan :
1. Persiapan fisik dan mental
2. Rencana rute dan jadwal waktu perjalanan
3. Logistik / perbekalan
4. Pakaian hangat ( kaos kaki, sarung tangan)
5. Peralatan (Ransel, tenda, tali, senter kompas, peta, peralatan masak, alat komunikasi, p3k)
6. Perijinan dan asuransi jiwa
7. Pengorganisasian tugas dan tanggung jawab peserta
8. Biaya dan buku catatan perjalanan
Tujuan :
Mengarahkan anggota pramuka agar memiliki sikap mental berani, tahan uji, memiliki rasa persahabatan dan kebersamaan.
7. Pemanduan
Adalah kegiatan yang dilakukan untuk memberikan penjelasan tentang arti pentingnya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
8. Penulusuran gua
Adalah suatu kegiatan memasuki dan menelusuri lorong-lorong / celah-celah yang berada di bawah permukaan tanah dengan persiapan dan perencanaan yang baik.
9. Pengamatan satwa
Adalah upaya untuk mengetahui jenis satwa, meliputi perilaku, makanan, habitat, populasi.
10. Penangkaran satwa
Adalah upaya menangkal makin berkurangnya berbagai jenis satwa dihabitat alami melalui penelitian dan pengembangan.
11. Pengendalian perburuan
Adalah kegiatan pengaturan perburuan dengan menetapkan jenis jumlah satwa yang akan di buru, musim berburu, serta lokasi beburu.
12. Pembudidayaan tumbuhan
Adalah kegiatan yang berhubungan dengan pemanfaatan dan pengembangan pembudidayaan tumuhan liar.
13. Pencegahan kebakaran hutan
Adalah semua usaha penegahan, pemadaman kebakaran hutan dan penyelamatan akibat kebakaran hutan dan lahan. 

DERRIDA GUNAWANA

DERRIDA GUNAWANA
Adalah salah satu krida di saka wanabakti yang berkaitan dengan kegiatan pengusahaan hutan baik terkait dengan masalah pemanfaatan, pendayagunaan maupun unsur-unsur kegiatan pendukungnya.
SKK dan TKK KRIDA GUNAWANA
A. Pengenalan jenis pohon.
Pohon adalah tumbuhan berkayu dengan diameter batang minimal 20 cm.

Nama Pohon Nama Latinnya
1. Jati (Tectona grandis)
2. Meranti (Shorea SPP)
3. Damar (Agathis)
4. Pinus (Pinus mercusi)
5. Sengon (Paraserianthes talcataria)
6. Ramin (Gonystillus Bancanus)
7. Rasamala (Altingia excelsa)
8. Durian (Durio zibetnus)
9.
Manfaat bagian-bagian Pohon .
1. Kayu
 Kayu perkakas/alat rumah tangga seperti meja, kursi, dll.
 Bahan bangunan seperti kusen, daun pintu,dll.
 Kerangka kendaraan seperti kapal.
 Kerajinan ukiran dan patung.
2. Daun
 Untuk minyak seperti minyak kayu putih.
3. Buah
 Untuk dikonsumsi seperti durian, cempedak, dll.
4. Getah
 Untuk diambil getahnya seperti pinus, karet, dll.
Sifat-sifat Morfologi pohon.
Morfologi batang.
a. Penampilan pohon
Secara umum pepohonan dihutan memiliki penampilan,
• Batang silindris
• Batang berbuncah
• Batang berlekuk/berbaling, berongga.
b. Penampilan pangkal batang
• Batang mulus
• Batang berbanir
c. Penampilan pepagan luar
• Batang berdamar
• Batang licin
• Batang berlekah
• Batang Bersisik
• Batang Lepas berkotak
• Batang Berpuru
• Batang Bergelang/bergaris melintang
• Batang Berduri
• Batang Mengelupas
• Batang Retak-retak
B. Pencacahan pohon.
Adalah suatu kegiatan untuk mengetahui jumlah (susunan/komposisi) dan sebaran pohon dihutan, secara sederhana pencacahan pohon dapat diartikan sebagai perhitungan terhadap potensi hutan terutama pohon-pohonnya.
Maksud pencacahan pohon
• Untuk mengetahui keadaan penyebaran pohon dalam tegakan yang melipui jumlah dan komposisi sejenisnya serta volume pohon yang akan ditebang.
• Untuk mengetahui jumlah dan jenis pohon inti dan pohon yang dilindungi yang akan dipelihara sampai rotasi berikutnya.
Tujuan pencacahan pohon
• Untuk menyusun rencana karya baik lima tahun maupun tahunan yang meliputi perbalakan dan rencana pembinaan.
C. Pengukuran kayu
Adalah proses penentuan dimensi kau yang meliputi panjang, diameter, bagi kayu bulat ataupun panjang, lebar, maupun tinggi. Bagi kayu-kayu yang sudah dalam bentuk sortimen/kayu olahan dalam rangka penghitungan volume kayu tersebut.
Alat ukur kayu
1. Caliper
2. Garpu pohon
3. Pita diameter
4. Tongkat ukur
Cara penetapan isi kayu bulat
Isi kayu bulat rimba indonesia ditetapkan berdasarkan Rumus “Breton Matrik” yang menghitungkan isi sebenarnya kayu bulat atas dasar silinder imajiner.
Rumus Breton Matrik
I = 0,7854 x d2 x L
10.000
Keterangan :
I : Isi kayu bulat rimba (m3)
d : diameter kayu bulat (cm)
L : Panjang kayu bulat (m)
0,7854 = ¼ x 3,1416
D. Kerajinan hasil hutan.

E. Pengolahan hasil hutan.
F. Penyulingan minyak atsiri.

KRIDA BINAWANA

KRIDA BINAWANA
Adalah salah satu krida dari saka wanabati yang melaksanakan kegiatan pembinaan kawasan dan masyarakat yang erhubungan dengan salah satu organisasi fungsional departmen kehutanan dan perkebunan.
A. Konservasi tanah : Upaya untuk memeluhara meningkatkan dan memperbaiki kondisi tanah agar berdaya guna secara optimum.
 Tanah adalah tubuh alam bebas dari hasil pelapukan batuan yang menduduki sebagian besar permukaan bumi, yang fungsinya sebagai habitat tumbuhan, pengatur tata air serta tempat melangsungkan kehidupan makhluk hidup.
 Erosi adalah terangkutya tanah/bagian-bagian tanah dari satu tempat ketempat yang lain oleh media alai terutama air.
 Pembentukan tanah dipengaruhi oleh faktor-faktor yaitu,
a. Iklim d. Topografi
b. Bahan induk e. Waktu
c. Makhluk hidup
B. Pebenihan
a. Pengadaan benih.
Adalah proses kegiatan mulai pengumpulan benih, extrasi benih, pengujian termasuk seleksi dan penyimpanan benih.
b. Extrasi benih.
Adalah proses pemisahan biji dari buah
c. Pemurnian benih.
Adalah proses memisahkan benih dari benda ikatan kotoran/benih yang tidak diinginkan.
d. Seleksi benih.
Adalah proses memisahkan benih yang berkualitas baik dari populasi benih yang telah dibrsihkan dari kotoran (Pemurnian benih).
Maksud dan tujuan
Maksud dari pengadaan benih adalah menyediakan benih yang bermutu baik dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan setiap tahun dan tepat waktu.
Dan tujuan dari pengadaan benih adalah untuk menunjang kelancaran pengadaan bibit yang bermutu baik dalam jumlah yang cukup sesuai dengan kebutuhan setiap tahun dan tepat waktu.
C. Pembibitan
a. Bibit : bahan tanaman yang dapat berupa benih sehat/seedling/anakan baik berupa stek, anakan siap tanam, cangkok maupun anakan cabutan yang dapat ditanam.

 D penanaman dan Pemeliharaan.
1. Penghijauan
Adalah upaya memulikan/memperbaiki kembali lahan kritis diluar kawasan hutan. Melalui kegiatan tanam menanam agar dapat berfungsi sebagai media prodiksi dan media pengatur tata air yang baik, serta upaya mempertahankan dan meningkatkan daya guna alam sesuai dengan peruntukannya.
2. Hutan rakyat
Adalah tanaman yang didominasi oleh jenis kayu-kayuan di lahan milik petani diluar kawasan hutan.
3. Kebun rakyat
Adalah areal tanaman yang didominasi oleh jenis tanaman buah-buahan dan/atau tanaman industri di lahan petani diluar kawasan hutan.
4. Reboisasi
Adalah upaya rehabilitasi lahan kritis didalam kawasan hutan melalui penanaman kayu-kayuan termasuk didalamnya pembuatan sarana dan prasarana.
5. Rencana Teknik Reboisasi (RTR)
Adalah rencana jangka pendek/tahunan reboisasi secara detail operasional yang memuat tentang lokasi jenis dan volume kegiatan, jenis tanaman, kebutuhan bibit, pola tanam, sarana dan prasarana, peta serta rancangan untuk setiap jenis kegiatan.
6. Sistem tumpang sari
Adalah sistem pembuatan tanaman kayu-kayuan yang dikombinasikan dengan penanaman tanaman semusim yang dilaksanakan oleh peserta tumpang sari berdasarkan perjanjian kerja selama jangka waktu 1-3 tahun.
7. Tanaman semusim pada kegiatan reboisasi
Adalah tanaman sementara pada kegiatan reboisasi yang perlu diatur sedemikian rupa sehingga tidak megganggu pertumbuhan tanaman pokok ataupun tanaman sela.
8. Tanaman pokok
Adalah tanaman pada kegiatan reboisasi yang diarahkan menjadi tegakkan pokok dikemudian hari.
9. Tanaman jenis MPTS ( Multi Purpose Trees Spesies )
Adalah tanaman bermanfaat ganda, disamping menghasilkan kayu juga menghasilkan hasil hutan non-kayu (hasil hutan) seperti buah, biji, getah, serta mampu memberikan perbaikan lingkungan.
10. Banjar harian
Adalah pembuatan tanaman yang dilakukan dengan upah harian.
11. Pemeliharaan tanaman
Adalah upaya untuk memelihara sejumla tanaman dalam lusan dan kurun waktu tertentu huna mendapatkan tanaman yang berkualitas baik dengan jumlah persatuan yang luas dan cukup serta sesuai dengan standart hasil yang ditentukan.
12. Penyulaman
Adalah upaya penanaman kembali untuk mengganti tanaman pokok yang mati/ diperkirakan tidak mampu tumbuh.
13. Penyiangan
Adalah upaya pembebasan tanaman pokok dan tanaman sela dari jenis pengganggu/ gulma. Antara lain : rumput liar, semak-semak, dan lainnya.
14. Pendangiran
Adalah upaya penggemburan tanah di sekeliling tanaman pokok dengan maksud memperbaiki kondisi fisik tanah.
15. Ilaran api (Sekat bakar)
Adalah jalur untuk mencegah/membatasi kebakaran hutan.
16. Ajir
Adalah pathok yang dibuat dari bambu/kayu untuk menandai jarak tanaman dan setelah penanaman ajir ditancapkan disamping tanaman.
Warna-warna Ajir :
 Warna Biru : Tanaman Pokok
 Warna Putih : Tanaman Sela
 Warna hijau : Tanaman Pagar/Tepi
17. Kontur
Adalah garis yang menghubungkan titik-titik pada ketinggian yang sama.
18. Penjarangan
Adalah tindakan pemeliharaan untuk mengatur ruang tumbuh dengan cara mengurangi kerapatan tegakan dengan tujuan untuk meningkatkan pertumbuhan pohon dan kualitas batang.
Maksud dan tujuan
Maksud dari penanaman untuk meningkatkan prosuktifitas lahan melalui penanaman kayu-kayuan atau buah-buahan yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, sedangakn maksud dari pemeliharaan tanaman agar tanaman muda mampu menjadi pohon dengan pertumbuhan sesuai dengan yang diharapkan.
Tujuan dari penanaman dan pemeliharaan untuk mendapatkan tegakkan/tanaman yang subur dengan luasan dan jenis yang diinginkan dan dapat memberikan hasil yang menguntungkan secara optimal.
E. Perlebahan
Adalah suatu rangkaian kegiatan pemanfaatan lebah dan produk-produknya serta vegetasi penunjang untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya bagi kepentingan masyarakat dengan memperhatikan aspek kelestariannya.
F. Budi daya jamur
Cara pemeliharaan jamur :
1. Kondisi ruangan tempat penanaman jamur/kubung/ruangan produksi agar dijaga kelembabannya serta kadar air tetap dalam kondisi optimal dengan melakukan penyiraman dengan cara penyemprotan air bersih. Suhu kelembaban dapat diatur dengan mengatur ventilasi.
2. Penyemprotan air bersih tersebut dilakukan dua kali sehari pagi dan sore sampai lantai basah dihindarkan penyemprotan langsung mengenai badan buah untuk menghindari kematian/busuk.
G. Pesuteraan Alam
Adalah salah satu kegiatan usaha tani dalam rangka upaya meninggalkan kesejahteraan masyarakat melalui kegiatan budi daya murbei yang dikombinasikan dengan memelihara ulat sutra dan penanganan.

Saka Wanabakti Pramuka Cinta Hutan


Saka Wanabakti Pramuka Cinta Hutan

Satuan Karya Pramuka (Saka) Wanabakti merupakan salah satu Saka (Satuan Karya) dalam Gerakan Pramuka Indonesia yang memberikan bekal pengetahuan dan ketrampilan khusus di bidang kehutanan dan lingkungan hidup serta menanamkan rasa cinta dan tanggung jawab dalam mengelola sumberdaya alam. Ruang lingkup materinya meliputi pengelolaan hutan, pemeliharaan hutan dan sumber daya alam, penyelamatan hutan dan lingkungan hidup, dan pemanfaatan hasil hutan bagi masyarakat. Tentunya tanpa meninggalkan materi-materi kepramukaan lainnya.
Satuan Karya Pramuka atau biasa disingkat dengan saka merupakan terobosan yang dilakukan oleh Gerakan Pramuka dalam memberikan wadah kepada anggotanya, terutama Penegak dan Pandega (berusia 16-25 tahun) untuk mendalami berbagai bidang kejuruan. Selain Saka Wanabakti juga masih terdapat beberapa saka lainnya seperti Saka Bhayangkara, Saka Dirgantara, Saka Bahari, Saka Wira Kartika, Saka Taruna Bumi, Saka Bhakti Husada, dan Saka Kencana (Keluarga Berencana).
Saka yang bergerak dalam bidang cinta kehutanan dan lingkungan hidup ini terselenggara berdasarkan Keputusan bersama antara Departemen Kehutanan Republik Indonesia dan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka yang ditandatangani pada tanggal 27 Oktober 1983 du Jakarta.
Penyelenggaraan Saka Wanabhakti dilaksanakan oleh Gerakan Pramuka bekerja sama dengan Departemen Kehutanan, Perum Perhutani ataupun dengan LSM lingkungan hidup. Latihan dan kegiatan Saka Wanabakti diselenggarakan di tingkat Kwartir Ranting (Kecamatan) atau Kwartir Cabang (Kabupaten/Kota).
Saka Wanabhakti beranggotakan:
  • Pembina Pramuka sebagai Pamong Saka (Pendidik) dan Instruktur.
  • Pramuka Penegak (usia 16-20 tahun) sebagai peserta didik
  • Pramuka Pandega (usia 21-25 tahun) sebagai peserta didik
  • Pramuka Penggalang (usia 11-15 tahun) juga dapat mengikuti kegiatan saka Wanabakti sebagai peminat.
Dalam Saka Wanabhakti setiap anggota selain diberikan materi kepramukaan sebagaimana dalam kegiatan pramuka biasa juga diberikan penekanan kepada beberapa materi yang berkaitan dengan kehutanan, sumber daya alam dan lingkungan hidup. Materi khusus dalam Saka Wanabhakti ini di kelompokkan dalam 4 (empat) krida, yaitu:
  1. Krida Tata Wana yang meliputi perisalah hutan; pengukuran dan pemetaan hutan; dan penginderaan jauh.
  2. Krida Reksa Wana yang meliputi keragaman hayati; konservasi kawasan; perlindungan hutan; konservasi jenis satwa; konservasi jenis tumbuhan; pemanduan; penelusuran gua; pendakian; pengendalian kebakaran hutan dan lahan; pengamatan satwa; penangkaran satwa; pengendalian perburuan; dan pembudidayaan tumbuhan.
  3. Krida Bina Wana yang meliputi konservasi tanah dan air; perbenihan; pembibitan; penanaman dan pemeliharaan; perlebahan; budi daya jamur; dan persuteraan alam.
  4. Krida Guna Wana yang meliputi: pengenalan jenis pohon; pencacahan pohon; pengukuran kayu; kerajinan hutan kayu; pengolahan hasil hutan; dan penyulingan minyak astiri.
Lambang Saka WanabaktiSaka Wanabakti memiliki lambang yang berbentuk segi lima di dalamnya terdapat lambang Departemen Kehutanan dan lambang Gerakan Pramuka. Lambang ini selain digunakan sebagai bendera juga dikenakan sebagai tanda pengenal yang dipasang di lengan baju sebelah kiri. Lambang ini mempunyai arti kiasan sebagai berikut:
  • Pohon hijau melambangkan hutan yang subur yang mempunyai berbagai fungsi dalam upaya konservasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
  • Pohon hitam melambangkan hutan yang produktif yang berfungsi sebagai sarana pendukung pembangunan nasional.
  • Garis-garis lengkung biru melambangkan fungsi hutan sebagai pengatur tata air.
  • Warna dasar coklat melambangkan tanah yang subur berkat adanya usaha konservasi tanah.
  • Tunas kelapa kuning melambangkan kegemilangan generasi muda yang tergabung dalam Saka Wanabakti yang giat mendukung pembangunan hutan dan kehutanan serta pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup.
  • Segilima melambangkan falsafah bangsa yaitu Pancasila yang merupakan azas tunggal bagi Saka Wanabhakti.
  • Keseluruhan lambang Saka Wanabakti ini mencerminkan anggota Satuan Karya Pramuka Wanabakti yang aktif membantu usaha pembangunan hutan dan kehutanan serta pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan hidup guna mencapai masyarakat Indonesia yang adil dan makmur berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Selain Saka Wanabakti Gerakan Pramuka juga masih menyelenggarakan beberapa saka lainnya seperti Saka Bhayangkara (bekerjasama dengan Polri), Saka Dirgantara (TNI AU), Saka Bahari (TNI AL), Saka Wira Kartika (TNI AD), Saka Taruna Bumi (Departeman Pertanian), Saka Bhakti Husada (Departemen Kesehatan), dan Saka Kencana (Keluarga Berencana).