Materi Pramuka
MENUJU INDONESIA LESTARI,
PRAMUKA BERKARYA DENGAN MEMBIBIT MAHONI (Swietenia mahagoni)
PENDAHULUAN
Keberadaan hutan menjadi prioritas utama pemerintah Buleleng yang
dalam hal ini menjadi tupoksi kerja Dinas Kehutanan dan Perkebunan
(Dishutbun) secara khusus, dan seluruh masyarakat Buleleng pada umumnya.
Untuk menyukseskan program rehabilitasi dan konservasi lahan,
pemerintah telah melakukan berbagai kegiatan penanaman di daerah kawasan
hutan maupun luar kawasan seperti Gerakan Penghijauan dan Konservasi
Alam (GPKA).
Untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan kegiatan tersebut perlu
didukung dengan persediaan benih berkualitas dalam jumlah yang cukup
dan berkesinambungan. penggunaan bibit yang bermutu untuk program
penanaman masih sangat terbatas, ini menunjukkan keberadaan sumber bibit
yang bermutu menjadi sangat penting. Jumlah sumber bibit pada saat ini
masih sangat terbatas, umumnya masih mempunyai kualitas genetik rendah
dengan potensi produksi yang rendah pula. Pembuatan benih oleh
masyarakat masih sangat kecil yang disebabkan oleh kurangnya sistem
pengelolaan yang cukup. Pembuatan bibit tanaman dengan pola kemitraan
antara pihak Dishutbun dengan masyarakat pada umunya dan generasi muda
pada khususnya sangat diperlukan dalam perencanaan program pembibitan
tanaman. Hal ini perlu dilakukan karena disadari bahwa generasi muda
mempunyai peranan penting dan strategis dalam upaya rehabilitasi,
konservasi lahan dan pelestarian sumber daya alam (Warta Kwarnas: 2007).
Mengingat gerakan pramuka sebagai wadah pembinaan generasi muda
dengan menggunakan prinsip dasar metodik pendidikan kepramukaan,
dianggap merupakan kelompok masyarakat yang perlu dijadikan mitra untuk
mendukung kegiatan pembangunan kehutanan, pelestarian sumber daya alam,
dan lingkungan hidup yang diwujudkan dengan pembentukan Satuan Karya
Pramuka Wanabakti (Saka Wanabakti) sebagai bentuk kerjasama antara
Kwartir Nasional dan Departemen Kehutanan dan Perkebunan (Kwarnas:
1984).
Berkenaan dengan hal tersebut, Satuan Karya Pramuka Wanabakti
Kabupaten Buleleng dalam binaan Kwartir Cabang Buleleng dan Dinas
kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Buleleng telah menunjukkan kerja
nyata dalam mewujudkan hutan lestari melalui kegiatan pembuatan bibit
Mahoni
(Swietenia mahagoni) yang dilaksanakan oleh anggota Saka Wanabakti pada gugusdepan/sekolah masing-masing.
PEMBAHASAN
Gambaran Umum Saka Wanabakti
Lahirnya Saka Wanabakti diawali dengan penandatangan piagam kerjasama
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dengan Departemen Kehutanan pada
tanggal 27 Oktober 1983 oleh Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Let.
Jen TNI (Purn) Mashudi dan Menteri Kehutanan Kabinet Pembangunan III
Republik Indonesia Dr. Soedjarwo. Pembentukan Saka Wanabakti ditetapkan
dengan Keputusan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No.134 Tahun 1983,
tanggal 10 Desember 1983. Pada tanggal 19 Desember 1983, Pimpinan Saka
Wanabakti ditetapkan dan dilantik oleh Wakil Presiden RI, Umar
Wirahadikusamah, pada kesempatan Upacara Puncak Penghijauan Nasional di
Desa Pidpid, Karangasem Bali, yang sampai saat ini tanggal tersebut
sebagai lahirnya Saka Wanabakti (Saka Wanabakti Nasional: 2005).
Tujuan dibentuknya Saka Wanabakti adalah untuk memberi wadah
pendidikan di bidang kehutanan kepada anggota Gerakan Pramuka, terutama
Pramuka Penegak dan Pramuka Pandega agar mereka dapat membantu membina
dan mengembangkan kegiatan pelestarian sumberdaya alam dan lingkungan
hidup, melaksanakan secara nyata, produktif dan berguna bagi Pramuka
Penegak dan Pramuka Pandega sebagai baktinya terhadap pembangunan
masyarakat, bangsa dan negara (Kwarnas: 1984). Anggota Saka Wanabakti
adalah:
- pramuka Penegak dan Pramuka Pandega
- pembina Pramuka sebagai Pamong Saka dan instruktur tetap
- pemuda calon anggota Gerakan Pramuka yang berusia 16-25 tahun.
Saka Wanabakti meliputi 4 (empat) krida sebagai satuan terkecil dan
menjadi wadah kegiatan keterampilan tertentu (Kep. Kwarnas: 1984), yaitu
: (1) Krida Tata Wana; (2) Krida Reksa Wana; (3) Krida Bina Wana; (4)
Krida Guna Wana. Dalam pelaksanaan operasionalnya, ditentukan upaya
pokok dan langkah-langkah pencapaian kecakapan masing-masing krida yang
dijabarkan kedalam Syarat Kecakapan Khusus (Duryat, 2005).
Identitas Mahoni
Nama binomial Mahoni adalah
Swietenia mahagoni. Klasifikasi ilmiah tentang Mahoni ialah :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua/dikotil)
Sub Kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Meliaceae
Genus :
Swietenia
Spesies :
Swietenia mahagoni (L.) Jacq
Mahoni dapat ditemukan tumbuh liar di hutan jati dan tempat-ternpat
lain yang dekat dengan pantai, atau ditanam di tepi jalan sebagai pohon
pelindung, reboisasi dan penghijauan (Anonim, 2010) yang asalnya dari
Hindia Barat ini, dapat tumbuh subur bila tumbuh di pasir payau dekat
dengan pantai. Jenis yang tumbuh pada zona lembab; menyebar luas secara
alami atau dibudidayakan; jenis asli Meksiko (Yucatan), bagian tengah
dan utara Amerika selatan (Wilayah Amazona)
Pohon selalu hijau dengan tinggi antara 30-35 cm. Kulit berwarna
abu-abu dan halus ketika masih muda, berubah menjadi coklat tua,
menggelembung dan mengelupas setelah tua. Daun bertandan dan menyirip
yang panjangnya berkisar 35-50 cm, tersusun bergantian, halus
berpasangan, 4-6 pasang tiap-daun, panjangnya berkisar 9 – 18 cm. Bunga
kecil berwarna putih, panjang 10-20 cm, mulai bercabang. Buah kering
merekah, umumnya berbentuk kapsul bercuping 5, keras, panjang 12-15 cm,
abu-abu coklat, dan halus. Bagian luar buah mengeras, ketebalan 5-7 mm
bagian dalam lebih tipis. Dibagian tengah mengeras seperti kayu,
berbentuk kolom dengan 5 sudut yang memanjang menuju ujung. Buah akan
pecah mulai dari ujung atau pangkal pada saat masak dan kering. Biji
menempel pada kolumela melalui sayapnya, meninggalkan bekas yang nyata
setelah benih terlepas. Umumnya setiap buah terdapat 35 -45 biji. Kayu
Mahoni ini termasuk bahan mebel bernilai tinggi karena dekoratif dan
mudah dikerjakan. Dalam sistem agroforestry digunakan sebagai tanaman
naungan dan kayu bakar.
Pembuatan Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni)
Kegiatan ini dilaksanakan selama rentang waktu 6 bulan antara Agustus
2009 hingga Februari 2010 dengan dana berasal dari kas Wanabakti dan
donator yang sifatnya tidak mengikat. Pembuatan Bibit Mahoni
(Swietenia mahagoni) oleh
anggota Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng meliputi beberapa tahap
kegiatan yaitu: (1) tahap persiapan dengan tujuan mempersiapkan serta
memberi pengetahuan awal kepada anggota tentang teknik pembuatan bibit
dengan kualitas unggul. Tahap persiapan ini meliputi penyusunan rencana
dan jadwal pembibitan, penentuan lokasi dan penyediaan sarana dan
prasarana; (2) tahap pelaksanaan yaitu melaksanakan kegiatan pembuatan
bibit Mahoni
(Swietenia mahagoni) di gugusdepan masing-masing
sesuai teori yang diberikan meliputi pengadaan biji, penaburan biji,
penyapihan, pemeliharaan dan pengangkutan; (3) Tahap evaluasi yaitu
pengecekan/pemantauan hasil kegiatan pembibitan ke masing-masing
gugusdepan oleh instruktur saka guna mengetahui hasil dan kendala yang
dihadapi (Panitia Pelaksana: 2010). Adapun langkah-langkah dalam membuat
bibit sebagai berikut.
Pengadaan biji
Untuk memperoleh produktivitas kayu dan mutu tegakan yang tinggi
perlu diupayakan pemakaian bibit yang baik. Bibit yang baik diperoleh
dari tegakan benih yang telah berumur lebih dari 20 tahun. Beberapa hal
yang perlu diperhatikan dalam pengadaan biji :
- Diambil dari pohon yang pertumbuhannya baik dan jelas asal usulnya
- Bermutu baik, sehat dan tidak terserang hama penyakit
Penaburan biji
- Sebelum dilakukan penaburan, sayap biji digunting. Media tabur yang
digunakan adalah tanah dicampur pasir dengan perbandingan 2 : 1,
kemudian disaring dengan kawat saringan berukuran 2 mm. Sebelum dipakai
sebaiknya media tersebut disterilkan terlebih dahulu. Untuk mencegah
serangan hama-penyakit, bedeng tabur dibuat setinggi ± 1 meter dari
permukaan tanah. Penaburan benih dilakukan secara merata ke seluruh
permukaan media dengan jarak 2 x 1 cm pada bedengan tabur ukuran 5 x 1 m
atau 2 x 1 m. Biji ditanam tanpa sayap dengan bagian biji yang tebal
sebelah bawah. Bedeng tabur diberi naungan.
- Cara lain penaburan biji dapat dilakukan ke kontainer atau kantong
plastik yang sudah diberi lubang-lubang kecil. Pada cara ini tidak
diperlukan penyapihan bibit, tetapi diperlukan penyulaman pada kantong
plastik yang bijinya tidak tumbuh. Perlakuan selayaknya sama seperti
bibit yang disapih. Untuk menjaga kelembaban pada bedeng tabur, harus
dilakukan penyiraman secara hati-hati.
Penyapihan
Benih mulai berkecambah ± pada hari ke 5 setelah penaburan. Pada umur
2-3 minggu atau kecambah sudah mempunyai 2-4 helai daun dapat
dipindahkan ke dalam kantong plastik dengan ukuran 8 x 15 cm yang telah
diisi media dengan alat penjepit (Dephut: 2007). Media yang digunakan
beragam, yang penting media tersebut berareasi baik dan cukup mengandung
hara mineral, antara lain dapat berupa campuran tanah humus dan pasir
atau tanah mineral, kompos dan pasir. Komposisi yang umum dipakai adalah
campuran pasir, tanah dan kompos dengan perbandingan 7 : 2 : 1.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyapihan bibit antara lain :
- Pencabutan semai dari bedeng tabur harus hati-hati dan akar tidak boleh patah
- Semai ditanam dalam kantong plastik atau kontainer lain berdiri tegak dan akar semai jangan melipat.
- Semai terhindar dari luka
- Penyapihan dilakukan pada pagi hari atau sore hari dan dilakukan dibawah naungan (sarlon)
Bibit persemaian siap ditanam di lapangan setelah berumur ± 5 bulan.
Ukuran tinggi bibit ± 25 cm (dari pangkal batang sampai ujung daun),
bagian batang bibit berkayu, diameter bibit > 2 mm, sehat dan segar.
Pemeliharaan dan Pengangkutan
Untuk memperoleh bibit yang berkualitas baik dalam jumlah yang
memadai, perlu dilakukan pemeliharaan setelah kegiatan penyapihan.
Kegiatan ini berupa penyiraman, penyiangan dan pemupukan. Penyiraman
dilakukan setiap hari pada pagi dan sore hari. Penyiraman dilakukan
secara hati-hati, menggunakan sprayer gendong dengan butiran air halus
(kabut). Penyiangan terhadap gulma yang tumbuh pada kantong plastik
dilakukan setiap hari. Pemupukan pertama dengan NPK dilakukan sewaktu
mencampur media tumbuh dengan dosis 1 gram (1 sendok teh) setiap
kantong. Pemupukan kedua dan selanjutnya dilakukan setiap bulan dengan
dosis yang sama.
Sebelum bibit diangkut ke lapangan terlebih dahulu dilakukan seleksi
bibit untuk memilih bibit yang baik. Bibit yang akan ditanam sebaiknya
dibiarkan selama 2-3 hari di tempat penampungan, dengan maksud memberi
waktu bagi bibit untuk menyesuaikan diri dengan keadaan tempat tumbuh
yang baru. Terhadap bibit ini perlu dilakukan perawatan seperti di
persemaian, sehingga kondisi bibit tetap sehat dan segar. Dalam
pengangkutan bibit agar diupayakan dalam pengangkutan bibit ke lapangan
seaman mungkin dengan menyimpan bibit pada rak angkut (Dephut: 2006).
Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, yaitu setelah curah hujan
cukup merata. Pada saat bibit ditanam, kantong plastik dilepas secara
hati-hati supaya media tumbuh tetap utuh. Kemudian bibit dimasukkan
kedalam lubang yang telah disiapkan, ditutup kembali dengan tanah serta
dipadatkan. Jarak tanam diatur seperti yang dianjurkan dalam rencana.
Gambar 1. Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni)
Sumber: Panitia Pelaksana
Hasil dilapangan menunjukkan bahwa kegiatan pembuatan bibit Mahoni
(Swietenia mahagoni)
guna menghasilkan bibit dengan kualitas unggul dapat terlaksana dengan
cukup baik. Sebanyak 70% atau 350 bibit Mahoni dapat dihasilkan dari 500
biji yang disemai. Benih yang tidak dapat tumbuh disebabkan oleh adanya
genangan air akibat hujan serta penyiraman yang berlebihan. Bibit
tersebut oleh anggota Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng
disumbangkan kepada sekolah melalui penghijauan lingkungan, diberikan
kepada guru dan ditanam pada areal kebun anggota sehingga dapat
bermanfaat secara langsung terhadap pelestarian lingkungan (Panitia
Pelaksana, 2010).
SIMPULAN
Berdasarkan pembahahasan diatas, simpulan yang dapat disampaikan
bahwa pramuka satuan karya pramuka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng
memiliki peran startegis dalam upaya terhadap kepedulian hutan menuju
Indonesia lestari yang diwujudkan melalui kegiatan pembuatan bibit
Mahoni
(Swietenia mahagoni).
DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2010.
Pembuatan Bibit. Tersedia pada
http://www.bpprejotangantulungagung.co.id Diakses pada tanggal 20 Februari 2010.
Departemen Kehutanan, 2006.
Penanganan Bibit. Pusat Standarisasi dan Lingkungan. Jakarta.
Departemen Kehutanan, 2007.
Petunjuk Teknis Pembuatan Bibit Desa Pekraman (makalah tidak diterbitkan). Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Unda Anyar. Denpasar.
Dinas Kehutanan dan Perkebunan. 2009.
Data Statistik Kehutanan dan Perkebunan. Buleleng.
Duryat, 2005.
Kehutanan Umum dan Saka Wanabakti. Saka Wanabakti Tingkat Nasional. Jakarta.
Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, 1984.
Keputusan Ketua Kwartir Nasional No. 05 tahun 1984 Tentang Petunjuk Penyelenggaraan Satuan karya Pramuka Wanabakti. Jakarta.
Panitia Pelaksana, 2010.
Laporan Pertanggungjawaban Pembuatan Bibit Mahoni (Swietenia mahagoni) Tahun 2009. Buleleng: Dewan Saka Wanabakti Kwartir Cabang Buleleng.
Saka Wanabakti Nasional. 2005.
Materi Pelengkap Krida Binawana. Jakarta: Sekretariat Pimpinan Saka Wanabakti Nasional.
Warta Kwarnas. 2007.
Kader Pramuka Sangat Diperlukan Dalam Merehabilitasi dan Melestarikan Sumber Daya Alam. Jakarta.